Jumat, 09 September 2011

Hadist Tentang Sakit dan Mengunjungi Orang Sakit

Sesungguhnya Allah SWT berfirman pada hari qiyamat,
"Hai.. anak Adam, Aku sakit, tetapi kalian tidak
menjengukKU?". "Ya Rabbi bagaimana aku menjenguk
padaMu padahal Engkau Robbul Alamin (Tuhan semesta
alam). Firman Tuhan : "Apakah anda tidak mengetahui
bahwa hambaKu fulan sakit, dan anda tidak
menjenguknya, apakah anda tidak mengetahui sekiranya
anda menjenguk pada­nya pasti anda mendapatkan Aku
padanya". (pahalaKu yang tidak terhingga besarnya).
(H.R. Muslim).

Sesungguhnya orang yang menjenguk orang sakit itu akan
dinaungi oleh Allah SWT dengan tujuh puluh lima ribu
Malaikat. (R. Ath-Thabarani).

Rasulullah SAW bersabda," Tiga macam, ketiga-tiganya
kewajiban tiap muslim; menjenguk orang sakit dan
menghadiri janazah, dan mendo'akan orang bersin jika
membaca Alhamdulillah. (H.R. Bukhari).

Jika seorang. menjenguk saudara sesama muslim diwaktu
pagi maka akan dido'akan oleh tujuh puluh ribu
Malaikat hingga sore, dan jika menjenguk diwaktu sore
maka akan dido'akan oleh' tujuh puluh ribu Malaikat
hingga pagi. (R. Ahmad).

KETERANGAN

Menjenguk orang sakit itu sangat dianjurkan, bahkan ia
sebagai sunnat yang mu'akkad menurut pendapat Jumhur
ulama', dan sebagian ulama' Maliki yang berpen­dapat
fardhu kifayah, Bahkan Imam Bukhari menjelaskan
wajibnya, tetapi tidak sunnat menjenguk pada orang
fasiq yang terang-terang fasiqnya, bahkan haram atau
makruh sebab memang dilarang berhubungan baik dengan
fasiq, juga makruh menjenguk ahli bid'ah, lebih-lebih
apabila ia (dirinya) termasuk seorang alim, yang dapat
menimbulkan salah sangka pada umum untuk mengikutinya
(murid-pengikutnya), maka dalam hal ini haram.

Dan yang dimaksud dengan penyakit itu yang dapat
menjadi udzur untuk meninggalkan sholat jum'at. Dan
menjenguk saudara muslim sakit pada hari jum'at lebih
afdhal dari lain-lainnya. Dan sunnat bagi orang yang
menjenguknya menyenangkan hati orang yang sakit,
dengan menyebut pahalanya penyakit, dan menganjurkan
sabar, dan jangan sampai mengeluh dalam rintihannya,
dan supaya banyak dzikir, kemudian minta doa dari
orang yang sakit (saling mendoakan) karena hadits
yang menyatakan bahwa do'a orang sakit itu sama dengan
do'a Malaikat.

Juga tersebut dalam hadits bahwa Nabi SAW jika
menjenguk orang sakit bersabda :Laa ba'sa thahurun
insya Allah (Tidak apa, penyak'itmu menjadi penebus
dosa, dan akan membersihkan kamu dari dosa-dosamu).

Dalam hadits yang shahih, Nabi SAW ber­sabda,"Siapa
yang membaca As'alu Allahal adhiem, rabbal arsyil
adhiem an yasy fiyaka 7 x. (Saya mohon kepada Allah
yang maha agung, yang mempunyai arsy yang besar,
semoga menyembuhkan anda 7 x) untuk orang sakit yang
belum tiba ajalnya, pasti Allah akan menyembuhkannya
dari penyakitnya.

Bukhari, Muslim meriwayatkan bahwa Nabi s.a.w.
bersabda
"Tiada seorang mu'min yang ditimpa oleh lelah atau
pe­nyakit, atau risau fikiran atau sedih hati,
sampaipun jika terkena duri, melainkan semua
penderitaan itu akan di­jadikan penebus dosanya oleh
Allah.
(HR Bukhari-Muslim)

Abu Dawud meriwayatkan Nabi s.a.w. bersabda :
"Seorang mu'min jika sakit, kemudian sembuh, maka
penyakit itu menjadi penebus dosanya, dan peringatan
dalam menghadapi masa depannya, sebaliknya orang
munafik jika sakit lain sembuh, maka ia bagaikan onta
yang diikat kemudian dilepas oleh majikannya, ia tidak
mengtahui mengapa diikat dan mengapa dilepas ".
(HR Abu Dawud)

Bukhari meriwayatkan, Nabi s.a.w. bersabda :
"Siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah padanya,
maka diberinya bala' (ujian). (HR Bukhari)

Atthabarani meriwayatkan,Nabi s.a.w. bersabda :
" Akan dihadapkan orang-orang yang mati syahid untuk
dihisab, kemudian orang-orang ahli sedekah juga untuk
dihisab (diadakan perhitungan amal) kemudian
dihadapkan orang-orang ahli bala' (orang mukmi yang
menerima bala�E, dan bagi mereka ini tidak ada
timbangan amal atau hisab, sedangkan pahala dituangkan
pada mereka ini sepuas-puasnya sehingga orang-orang
yang sehat dan tidak menderita itu ingin andaikan
mereka diguntingi badan mereka dengan gunting (yakni
mereka akan rela) karena melihat betapa besar pahala
Allah bagi orang yang menderita bala' itu".
(HR Ath-Thabarani)

Atthabarani juga meriwayatkan," Jika sakit seorang
hamba hingga tiga hari, maka keluar dari dosa-dosanya
sebagaimana keadaannya ketika baru lahir dari
kandungan ibunya. (HR Ath-Thabarani)

Ibn Abid Dunya meriwayatkan," Siapa yang dapat
menyembunyikan sakit panasnya satu hari saja, maka
Allah akan melepaskannya dari dosa-dosanya bagaikan
keadaannya ketika baru lahir dari kandungan ibunya.
Dan dicatat untuk bebas dari neraka, ditutupinya
sebagaimana ia menutupi bala' Allah didunia (ya'ni
bala' yang dideritanya ketika hidup di dunia)".
(HR Abi Dunya)

Ahmad dan Atthabarani meriwayatkan " Sesungguhnya
penyakit pening kepala dan panas dalam itu selalu
berjangkit pada seorang mu'min yang dosanya sebesar
bukit uhud, maka tidak terhenti penderitaan itu
sehingga tidak ada sisa dari dosa-dosanya itu walau
seberat biji sawi". (HR Ahmad & Ath-Thabarni)

Alqadha'i meriwayatkan," Penyakit panas itu menjaga
tiap mu'min dari neraka, dan panas semalam cukup dapat
menebus dosa setahun (HR Al-Qadha’i)

Ibn Majah meriwayatkan," Penyakit panas (demam) itu
alat peniup jahannam, maka jauhkan dari kamu dengan
air- dingin. (HR Ibn Majah)

Ahmad, Attirmidzi, dan Annasa'i meriwayatkan," Siapa
yang mati karena sakit perut (berak-berak/muntaber)
tidak akan disiksa dalam kubur".
(HR Ahmad, At-Tirmidzi & An-Nasa’i )

Juga tersebut dalam hadits sahih," Siapa yang
menderita mushibah (bala') pada diri dan hartanya,
lalu disembunyikannya, dan tidak mengeluh pada
orang-orang, maka ia berhak untuk diampunkan oleh
Allah' ta'alla".

Abu Musa Al-asy'ari r.a. berkata : Aku putus dengan
orang-orang yang diputus hubungan oleh Rasulullah SAW,
karena sesungguhnya Rasulullah s.a.w. putus hubungan
dengan orang-orang yang menjerit-jerit ketika
kematian, dan yang mencukur rambut kepalanya, dan yang
merobek-robek bajunya, ketika ditimpa mushibah. (H.R.
Bukhari, Muslim).

Abdullah bin Mas'uud r.a. berkata : Rasulullah s.a.w.
ber­sabda," Bukan dari ummatku orang-orang yang
memukul-mukul; mukanya, dan merobek bajunya, dan
mengeluh dengan kebiasaan jahiliyah. (ya'ni semua itu
ketika menghadapi mushibah). (H.R. Bukhari, Muslim).

Alhakim dan Ibn Hibban meriwayatkan," Tiga macam dari
pada tanda kekafiran terhadap Allah; Merobek baju dan
merintih (niyahah) dan menghina nasab orang (keturunan
orang)".

Ibn Majah meriwayatkan," Merintih itu termasuk
kebiasaan jahiliyah, dan orang yang merintih, jika ia
mati sebelum tobat, maka Allah akan memotongkan
untuknya pakaian dari lantung dan kutang dari uap api
neraka. (HR Ibn Majah)

KETERANGAN :
Para ulama berbeda faham tentang pahala orang sakit,
apakah karena penyakitnya atau karena sabarnya.
Pendapat yang sesuai dengan hadits, yaitu jika sabar
atas penyakit maka ia diberi pahala karena penyakit
dan sabarnya, jika tidak sabar, maka tidak ada pahala
sama sekali.

Izzuddin bin Abdussalam.ra berkata : Bala' mushibah
itu, tidak mengandung pahala sebab ia bukan perbuatan
hamba, dan pahalanya (dalam menerima bala�E itu hanya
didapat karena sabar. Tetapi penyakit itu dapat
menebus dosa meskipun tidak sabar, sebab penebus dosa
tidak disyaratkan harus usaha hamba tersebut yang
diberi penyakit. Tetapi bagi yang menderita penyakit
lalu ia bersabar maka ia mendapatkan keutamaan yang
besar.

Wa min Allah at Taufiq

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar