Kamis, 16 Februari 2012

Cinta Merupakan Anti Depresi yg Terbaik

Cinta merupakan anti depresi yang terbaik, namun banyak pemahaman kita mengenai cinta yang juga salah. Semakin sedikit Anda merasakan cinta, semakin besar depresi yang Anda rasa. Cinta sangatlah penting bagi tubuh dan pikiran Anda seperti oksigen. Hal itu tidak bisa ditawar. Semakin Anda memiliki rasa cinta, semakin sehat Anda baik secara fisik maupun emosional. Semakin sedikit Anda memiliki rasa cinta, semakin besar resiko Anda untuk mengalami depresi.

Cinta bisa jadi menjadi anti depresi terbaik karena salah satu sumber yang paling umum dari depresi adalah merasa tidak dicintai. Kebanyakan mereka yang menderita depresi tidak mencintai diri mereka sendiri dan mereka juga tidak merasa dicintai oleh orang lain. Mereka juga sangat berfokus pada diri sendiri, membuat mereka menjadi kurang menarik bagi orang lain yang pada akhirnya justru merampas kesempatan mereka untuk mempelajari ketrampilan cinta.

Ada sebuah mitos dalam budaya kita bahwa cinta terjadi begitu saja. Sebagai hasilnya, banyak orang yang tidak melakukan apa-apa selain menunggu agar seseorang mencintai mereka. Tapi cinta tidak bekerja seperti itu. Untuk mendapatkan cinta dan mempertahankan cinta, Anda harus bergaul secara aktif dan mempelajari berbagai ketrampilan khusus.

Banyak dari kita yang mendapatkan ide mengenai cinta dari kisah-kisah fiktif dengan akhir ‘bahagia selamanya’. Dan konsekuensinya adalah ketika kita menemukan ‘cinta sejati’, kita menjadi kesal dan kecewa karena ada banyak hal yang tidak sesuai dengan konsep cinta yang kita pahami. Beberapa dari kita mungkin mencintai dengan banyak menuntut dan megendalikan. Kita ingin agar orang lain melakukan apa yang menurut kita sebagai cinta romantis yang ideal, tanpa menyadari bahwa idealisme kita itu salah adanya.

Merubah pemahaman seseorang akan cinta tidak hanya mungkin tapi sangat diperlukan untuk menangkal depresi. Berikut ini adalah strategi tindakan untuk mendapatkan lebih dari apa yang Anda inginkan di dalam kehidupan – untuk mencintai dan dicintai.

Memahami perbedaan antara obsesi dan cinta. Obsesi adalah kondisi psikologis yang merujuk pada perasaan tergila-tergila yang mendalam. Obsesi adalah tahap pertama dari daya tarik menggila dimana semua hormon mengalir dan merasa sangat benar. Rata-rata obsesi dapat berlangsung selama enam bulan. Obsesi memang dapat berkembang menjadi cinta. Cinta sebagian besar dimulai dari obsesi, tetapi obsesi tidak selalu berkembang menjadi cinta.

Memahami bahwa cinta adalah ketrampilan yang dipelajari, bukan sesuatu yang berasal dari hormon atau emosi tertentu. Erich Fromm menyebutnya “sebuah tindakan berkehendak”. Jika Anda tidak mempelajari ketrampilan cinta, hampir dapat dipastikan Anda akan merasa tertekan. Bukan saja karena Anda tidak akan memiliki banyak rasa cinta, tapi juga karena Anda akan mengalami banyak kegagalan.

Pelajari ketrampilan komunikasi yang baik. Ketrampilan komunikasi ini merupakan cara bagi Anda untuk mengembangkan kepercayaan dan mengintensifkan koneksi. Semakin baik Anda dapat berkomunikasi, semakin kecil resiko Anda akan merasa tertekan karena Anda akan merasa dipahami dan dimengerti.

Selalu terdapat perbedaan mendasar di antara dua pribadi. Tak peduli seberapa dekat atau seberapa baik hubungan Anda dengannya, jika hubungan Anda berdua berjalan di jalur yang tepat, perbedaan-perbedaan itu pasti akan muncul ke permukaan. Masalah pun kemudian dapat dijadikan alat untuk mengidentifikasi perbedaan dan menegosiasikannya sehingga hubungan Anda tidak akan semakin menjauh atau bahkan membunuh hubungan yang telah terjalin.

Anda harus memahami latar belakang pasangan Anda, siapa dia sebenarnya, dan bagaimana Anda dapat mewakili diri Anda. Ketika perbedaan ini Anda kenali, Anda harus mampu bernegosiasi dan berkompromi terhadap perbedaan sampai Anda menemukan kesamaan mendasar yang membuat Anda berdua dapat menjalaninya bersama-sama.

Fokuslah pada kebutuhan orang lain. Daripada fokus pada apa yang akan Anda dapatkan dan bagaimana Anda seharusnya diperlakukan, bacalah kebutuhan pasangan Anda. Apa yang benar-benar diperlukan pasangan Anda? Ketrampilan ini menjadi suatu hal yang sangat sulit dipelajari di tengah budaya yang berpusat pada diri sendiri seperti budaya masyarakat modern masa kini.

Membantu orang lain. Depresi membuat seseorang begitu terfokus pada diri mereka sendiri sehingga mereka tidak memperhatikan kondisi di luar mereka yang membuat mereka belajar untuk mencintai. Semakin Anda dapat berfokus pada orang lain dan belajar meresponi untuk memenuhi kebutuhan orang lain, semakin baik ketrampilan yang Anda miliki untuk mencintai dan dicintai.

Kembangkan kemampuan untuk mengakomodasi realitas yang berkesinambungan. Kenyataan yang dihadapi pasangan Anda sama pentingnya dengan apa yang Anda hadapi, dan Anda perlu menyelami hal itu sebagai pengalaman Anda sendiri. Apa yang sesungguhnya mereka katakan, apa yang sesungguhnya mereka butuhkan? Orang yang depresi hanya berpikir bahwa satu-satunya kenyataan adalah kenyataan yang membuat mereka depresi.

Sensitivitas terhadap penolakan adalah hal utama dari depresi. Sebagai konsekuensi dari rendahnya harga diri, setiap penyimpangan hubungan ditafsirkan terlalu pribadi sebagai bukti dari ketidakmampuan. Jika Anda merasa cepat tertolak oleh perilaku pasangan, Anda kemudian akan merasa bahwa perlakuan seperti itu memang layak Anda terima. Namun sebenarnya penolakan itu berasal dari Anda sendiri, dan perasaan tidak mampu sebenarnya adalah rasa depresi Anda yang sedang menunjukkan diri.

Akuilah bahwa teriakan di dalam Anda itu tidak nyata. Bicaralah kepada diri Anda sendiri, “Saya tidak benar-benar ditolak, ini bukanlah bukti bahwa saya tidak mampu dan telah melakukan kesalahan” atau “Ini bukanlah tentang saya, ini hanyalah sesuatu yang saya tidak tahu bagaimana melakukannya dan sekarang saya akan belajar.” Ketika Anda membingkai situasi dengan sesuatu yang lebih memadai, Anda dapat bertindak lagi dengan cara yang efektif dan Anda dapat menemukan serta mempertahankan cinta sejati yang Anda butuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar