Ini jamak terjadi di seluruh dunia, ketika politisi
dan pemimpin yang mengaku "wakil rakyat" bergaya hidup mewah, jauh dari
mereka yang diwakili. Tapi ada perkecualian di Uruguay. Di mana seorang
presiden memilih tinggal di peternakan bobrok, alih-alih di istana
megah.
Inilah pemandangan di tempat tinggal Presiden Uruguay, Jose Mujica:
pakaian yang dijemur di bawah matahari, air yang ditimba dari sumur,
rumput dan ilalang yang tumbuh di sana sini. Hanya ada dua petugas
polisi yang berjaga di luar, serta Manuela, seekor anjing berkaki tiga.
Gaya hidupnya jauh berbeda dari kebanyakan kepala negara.
Mujica memilih tinggal di peternakan milik istrinya, di tepi jalanan
berdebu, di luar ibukota Montevideo. Gaya hidupnya yang tak biasa dan
fakta ia memberikan 90 persen gajinya untuk amal, setara US$12.000 atau
Rp115,5 juta, membuatnya dijuluki "presiden paling miskin di dunia".
Orang mungkin heran dengan cara hidupnya, tapi bagi Mujica, ini
adalah pilihan. Penghasilan yang ia ambil hanya US$775 atau Rp7,45 juta,
setara dengan penghasilan rata-rata rakyatnya. Harta pribadi yang ia
laporkan US$1.800 atau Rp17,3 juta, senilai satu-satunya mobil yang
dimiliki, Volkswagen Beetle keluaran 1987.
Pelajaran masa lalu
Mujica terpilih sebagai presiden tahun 2009 lalu. Pada tahun
1960-1970-an, ia menjadi bagian dari pasukan gerilyawan Tumaparos,
milisi berhaluan kiri yang terinspirasi revolusi Kuba.
Selama itu, Mujica enam kali ditembak, menghabiskan 14 tahun hidupnya
di penjara. Kebanyakan ia ditahan di lingkungan yang keras dan
terisolasi, sampai akhirnya dibebaskan pada tahun 1985, saat Uruguay
kembali demokratis.
Ditahan selama bertahun-tahun mengubah pola pikirnya. "Aku disebut
sebagai presiden termiskin", tapi aku tak merasa miskin," kata dia.
"Menurutku yang pantas disebut miskin adalah mereka yang bekerja keras
hanya untuk mempertahankan gaya hidup mewah. Selalu menginginkan lebih
dan lebih."
"Ini hanya soal pilihan. Jika tak punya banyak harta, Anda tak perlu
bekerja keras seumur hidup, seperti budak, hanya untuk
mempertahankannya."
Mujica menyampaikan hal senada saat berbicara pada KTT Rio+20 Juni
lalu. Menyindir pembangunan berkelanjutan yang meniru model pembangunan
dan konsumsi di negara kaya. "Saya bertanya pada Anda semua: apa yang
akan terjadi pada planet ini, jika pada Suku Indian, misalnya, di
terapkan proporsi mobil per rumah tangga seperti di Jerman Berapa
oksigen yang masih tersisa untuk kita hirup," kata dia.
Dia menegaskan, sumber data planet ini tak akan cukup untuk memenuhi
kebutuhan 7 sampai 8 miliar penduduknya jika level konsumsi
disamaratakan.
Kritik
Meski gaya hidup Mujica mendapat pujian dan simpati, ia tak lantas kebal terhadap risiko perjalanan politik yang naik turun.
Oposisi melancarkan kritik, pemerintahannya dianggap tak berhasil
meningkatkan kesejahteraan ekonomi, belum mampu meningkatkan pelayanan
publik terutama bidang kesehatan dan pendidikan. Dan, untuk kali
pertamanya pasca terpilih sebagai presiden 2009 lalu, popularitasnya
melorot tajam, di bawah 50 persen.
Tahun ini, Mujica bahkan menjadi sorotan gara-gara dua langkah
kontroversialnya. Pertama, ia tak memveto keputusan kongres yang
melegalkan aborsi hingga usia kehamilan 12 minggu.
Ia juga dikritik karena mendukung legalisasi konsumsi ganja dalam UU,
yang akhirnya memberi kewenangan negara untuk memonopoli
perdagangannya. "Menurutku, konsumsi ganja bukan hal yang paling
mengkhawatirkan. Masalah utama justru pada perdagangan narkotika," kata
Mujica, mengutarakan alasannya.
Pria paro baya berusia 77 tahun itu juga tak terlalu ambil pusing
dengan soal rating popularitasnya yang anjlok, apalagi menurut aturan ia
tak bisa mencalonkan diri kembali pada 2014 mendatang.
Mujica tak khawatir lengser dari jabatannya sebagai presiden, hidup
hanya dari uang pensiun yang diberikan negara. Dan tak seperti kepala
negara lain, ia mungkin tak akan terlalu merasakan efek penurunan
finansial. Hidup nyaman, menghabiskan masa tuanya dalam kesederhanaan.
Senin, 01 Juli 2013
Rabu, 20 Juni 2012
KIAT-KIAT MENGHINDARI MAKSIAT (Kajian Hikmah)
KIAT-KIAT MENGHINDARI MAKSIAT (Kajian Hikmah)
بِسْــــــ...ــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم
Setiap manusia pernah berbuat dosa dan kesalahan, baik besar ataupun kecil. Rasulullah bersabda,
“Setiap anak Adam pernah melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang
melakukan kesalahan adalah orang-orang yang bertaubat.” (HR. Ibnu
Majah, no, 4251)
Bahkan para Nabi pun tidak luput dari
kesalahan, dan mereka bertaubat kepada-Nya. Seperti nabi Adam pernah
melanggar perintah Allah dengan mendekati pohon larangan, kemudian
beliau bertaubat dan berdoa kepada Allah, artinya,
“Ya Tuhan
kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak
mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami
termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raf: 23)
Pada
zaman ini, sarana kemaksiatan semakin banyak, orang semakin sulit
menghindari racun yang ditimbulkan oleh kemaksiatan tersebut. Walaupun
demikian ada beberapa kiat agar terhindar dari kemaksiatan, yaitu;
1. Menganggap Besar Dosa
Orang yang beriman dan bertakwa selalu menganggap besar dosa-dosa,
meskipun dosa yang dilakukan tergolong dosa kecil. Mereka merasa
terbebani dengan dosa tersebut dan menganggap besar kekurangan dirinya
di sisi Allah.
Ibnu Mas’ud berkata, “Orang beriman melihat
dosa-dosanya seolah-olah ia duduk di bawah gunung, ia takut gunung
tersebut menimpanya. Sedangkan orang yang fajir (suka berbuat dosa)
melihat dosanya seperti lalat yang lewat di depan hidungnya.”
Bilal bin Sa’d mengatakan, “Jangan kamu melihat pada kecilnya dosa, tetapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat.”
2. Jangan Meremehkan
Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu meremehkan dosa, seperti kaum
yang singgah di perut lembah. Lalu seseorang datang membawa ranting dan
seorang lainnya lagi datang membawa ranting sehingga mereka dapat
menanak roti mereka. Kapan saja orang yang melakukan suatu dosa
menganggap remeh dosa, maka ia dapat membinasakannya.”(HR. Ahmad dengan
sanad hasan)
3. Jangan Mujaharah
Mujaharah adalah
melakukan kemaksiatan, dan menceritakan kemaksiatan tersebut kepada
manusia. Pelaku maksiat yang mujaharah lebih besar dosanya daripada yang
melakukan dosa tanpa mujaharah. Rasulullah bersabda,
“Semua
umatku dimaafkan kecuali mujahirun (orang yang terang-terangan dalam
bermaksiat). Termasuk mujaharah ialah seseorang yang melakukan suatu
amal (keburukan) pada malam hari kemudian pada pagi harinya ia
membeberkannya, padahal Allah telah menutupinya, ia berkata, ‘Wahai
fulan, tadi malam aku telah melakukan demikian dan demikian.’ Pada malam
hari Tuhannya telah menutupi kesalahannya tetapi pada pagi harinya ia
membuka tabir Allah yang menutupinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
4. Taubat Nasuha
Allah berfirman, artinya, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,
hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. an-Nur: 31)
Rasulullah bersabda, “Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya
tatkala bertaubat daripada seorang di antara kamu yang berada di atas
kendaraannya di padang pasir yang tandus. Kemudian kendaraan itu hilang
darinya, padahal di atas kendaraan itu terdapat makanan dan minumannya.
Ia sedih kehilangan itu, lalu ia menuju pohon dan tidur di bawah
naungannya dalam keadaan bersedih terhadap kendaraannya. Saat ia dalam
keadaan seperti itu, tiba-tiba kendaraannya muncul di dekatnya, lalu ia
mengambil tali kendalinya. Kemudian ia berkata, karena sangat
bergembira, ‘Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu’. Ia
salah ucap karena sangat bergembira.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
5. Mengulangi Taubat
Rasulullah bersabda, “Seorang hamba melakukan dosa, maka ia berkata,
‘Wahai Tuhanku, aku telah melakukan suatu dosa, maka ampunilah!’
Tuhannya berfirman, ‘Hamba-Ku tahu bahwa ia memiliki Tuhan yang akan
mengampuni dosanya. Aku telah mengampuni hamba-Ku.’ Kemudian hamba
tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, maka ia berkata, ‘Wahai Tuhanku,
aku telah melakukan dosa lagi, maka ampunilah!’. Lalu Allah berfirman,
‘Hamba-Ku tahu bahwa ia memiliki Tuhan yang akan mengampuni dosanya. Aku
telah mengampuni hamba-Ku.’ Kemudian hamba tersebut mengulangi lagi
berbuat dosa, maka ia berkata, ‘Wahai Tuhanku, aku telah melakukan dosa
kembali, maka ampunilah dosaku!’.Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku tahu
bahwa ia memiliki Tuhan yang akan mengampuni dosanya. Aku telah
mengampuni hamba-Ku.’ Tiga kali; maka lakukanlah apa yang ia suka.” (HR.
al-Bukhari dan Muslim)
Ali bin Abi Thalib berkata,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang diuji (dengan dosa) lagi
bertaubat.” Ditanyakan, ‘Jika ia mengulangi lagi?’ Ia menjawab, ‘Ia
beristighfar kepada Allah dan bertaubat.’ Ditanyakan, ‘Jika ia kembali
berbuat dosa?’ Ia menjawab, ‘Ia beristighfar kepada Allah dan
bertaubat.’ Ditanyakan, ‘Sampai kapan?’ Dia menjawab, ‘Sampai setan
berputus asa.”’
6. Senantiasa Beristighfar
Saat-saat beristighfar:
Ketika melakukan dosa
Setelah melakukan ketaatan
Dalam dzikir-dzikir rutin harian
Beristighfar setiap saat
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya sesuatu benar-benar menutupi hatiku,
dan sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dalam sehari 100 kali.”
(HR. Muslim, No. 2702)
7. Melakukan Kebajikan Setelah Keburukan
Rasulullah bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu
berada, dan iringilah keburukan dengan kebajikan maka kebajikan itu akan
menghapus keburukan tersebut, serta perlakukanlah manusia dengan akhlak
yang baik.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi menilai hadits ini
hasan shahih)
8. Memurnikan Tauhid
Dari Abdullah bin
Mas’ud, ia berkata, “Ketika Rasulullah dalam perjalanan pada malam yang
berakhir di Sidratul Muntaha, beliau diberi tiga perkara: diberi shalat
lima waktu, penutup surat al-Baqarah, dan diampuninya dosa orang yang
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun dari umatnya.” (HR. Muslim)
Rasulullah bersabda, “Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang melakukan
kebajikan, maka ia mendapatkan pahala sepuluh kebajikan dan Aku tambah
dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka balasannya satu keburukan
yang sama, atau diampuni dosanya. Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku
sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta dan barangsiapa yang
mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa;
barangsiapa yang datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang
kepadanya dengan berlari. Barangsiapa yang menemui-Ku dengan dosa
sepenuh bumi tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, maka Aku
menemuinya dengan maghfirah yang sama.’” (HR. Muslim dan Ahmad)
9. Bergaul Dengan Orang-Orang Shalih
Manfaat bergaul dengan orang shalih:
a.Bersahabat dengan orang-orang baik adalah amal shalih
b.Mencintai orang-orang shalih menyebabkan seseorang bersama mereka di
Surga, walaupun ia tidak mencapai kedudukan mereka dalam amal
Manusia itu terdiri dari 3 golongan, yaitu,
- Golongan yang membawa dirinya dengan takwa dan mencegahnya dari kemaksiatan. Inilah golongan terbaik.
- Golongan yang melakukan kemaksiatan dalam keadaan takut dan menyesal.
Ia merasa dirinya berada dalam bahaya yang besar, dan ia berharap suatu
hari dapat berpisah dari kemaksiatan tersebut.
- Golongan yang mencari kemaksiatan, bergembira dengannya dan menyesal karena kehilangan hal itu.
c. Penyesalan dan penderitaan karena melakukan kemaksiatan hanya dapat dipetik dari persahabatan yang baik.
d. Jika berpisah dengan orang-orang yang baik, maka biasanya akan berteman dengan orang yang buruk dan pelaku maksiat.
10. Jangan Mencela Perbuatan Dosa Orang Lain
Rasulullah menceritakan kepada para shahabat bahwa seseorang berkata,
“Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Allah berkata,
”Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si
fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapus
amalmu.” (HR. Muslim).
[Sumber: “Sabiilun Najah min Syu’umil
Ma’shiyyah,” karangan Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy, edisi Indonesia:
“13 Penawar Racun kemaksiatan,” Darul Haq, Jakarta.]
Semoga Bermanfaat,Wasallam.
4 Malaikat Yang Mendatangi Org Sakit
4 MALAIKAT YANG MENDATANGI ORANG SAKIT
بِسْــــــ...ــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم
Kalau kita tahu sebenarnya tak ada alasan untuk sedih dan mengeluh saat
kita sakit, karena sebenarnya itu adalah kasih sayang Allah SWT pada
kita. Kita mengeluh saat sakit karena kita tak tahu rahasianya. Tulisan
pendek ini membuktikan bahwa sakit itu harus disyukuri karena itu adalah
bukti kasih sayang Allah pada kita. Allah mengutus 4 malaikat untuk selalu menjaga kita dalam sakit.
Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang hamba yang beriman menderita
sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis
perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat
dan pada saat waktu senangnya.”
Ujaran Rasulullah SAW tsb diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili. Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda :
“Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.”
Allah memerintahkan :
1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya
3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.
Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan
kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat,
dan cahaya di wajah sang hamba.
Namun untuk malaikat ke 4 ,
Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba
mukmin. Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata :
“Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”
Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan
dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit.
Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”
Dengan
ini, maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari
dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama
setahun.” (situs lakalaka.com)
Subhanallaah … subhanallaah … !!
“Tiada seorang mu’min yang ditimpa oleh lelah atau penyakit, atau
risau fikiran atau sedih hati, sampaipun jika terkena duri, melainkan
semua penderitaan itu akan dijadikan penebus dosanya oleh Allah. (HR
Bukhari-Muslim)
“Jika sakit seorang hamba hingga tiga hari,
maka keluar dari dosa-dosanya sebagaimana keadaannya ketika baru lahir
dari kandungan ibunya. (HR Ath-Thabarani)
“Penyakit panas itu menjaga tiap mu’min dari neraka, dan panas semalam cukup dapat menebus dosa setahun.” (HR Al-Qadha’i)
Semoga Bermanfaat,Wasallam.
73 Yang Ada Perusaknya
Setiap sesuatu ada perusaknya, ……(73 yang ada perusaknya)
1. Rusaknya keahlian karena pujian yang berlebihan
2. Rusaknya keberanian karena kebrutalan
3. Rusaknya kebaikan karena diungkit-ungkit
4. Rusaknya keindahan karena kesombongan
5. Rusaknya ibadah karena santai
6. Rusaknya ilmu karena lupa
7. Rusaknya kelembutan karena kebodohan
8. Rusaknya kebangsawanan karena kebanggaan
9. Rusaknya kedermawanan karena keborosan
10. Rusaknya agama karena hawa nafsu
11. Rusaknya ibadah karena riya’
12. Rusaknya akal murni karena ujub (bangga diri)
13. Rusaknya kemurahan hati karena keangkuhan
14. Rusaknya malu karena kelemahan
15. Rusaknya lemah-lembut karena kerendahan akhlak
16. Rusaknya keuletan karena kekejian
17. Pengecut adalah kerusakan
18. Hawa nafsu adalah kerusakan bagi akal
19. Rusaknya iman karena kemusyrikan
20. Rusaknya keyakinan karena keraguan
21. Rusaknya nikmat karena pengingkaran
22. Rusaknya ketaatan karena maksiat
23. Rusaknya kemuliaan karena kesombongan
24. Rusaknya kecerdikan karena tipudaya
25. Rusaknya kedermawanan karena diungkit-ungkit
26. Rusaknya agama karena buruk sangka
27. Rusaknya akal karena hawa nafsu
28. Rusaknya kemuliaan karena halangan taqdir (ketentuan)
29. Rusaknya diri karena terlalu memberikan kecintaan pada dunia
30. Rusaknya musyawarah karena ide-ide yang bertentangan
31. Rusaknya para raja karena buruk sepak terjang
32. Rusaknya kabinet karena niat jahat
33. Rusaknya ulama karena cinta kekuasaan
34. Rusaknya para pemimpin karena lemah taktiknya
35. Rusaknya pasukan karena menyalahi komando
36. Rusaknya latihan karena dikalahkan oleh kebiasaan
37. Rusaknya rakyat karena meyalahi ketaatan
38. Rusaknya penjagaan karena kurangnya rasa kecukupan
39. Rusaknya peradilan karena kerakusan
40. Rusaknya para pelaku keadilan karena kurang hati-hatinya pengawasan
41. Rusaknya keberanian karena mengabaikan tekad
42. Rusaknya orangkuat karena menganggap lemah musuh
43. Rusaknya kelembutan karena kehinaan
44. Rusaknya pemberian karena mengulur-ulur
45. Rusaknya ekonomi karena pelit
46. Rusaknya wibawa karena senda gurau
47. Rusaknya pencarian karena tidak sukses
48. Rusaknya kerajaan karena lemahnya penjagaan
49. Rusaknya perjanjian karena kurangnya perhatian
50. Rusaknya kepemimpinan karena kebanggaan
51. Rusaknya penukilan karena sumber berita yang bohong
52. Rusaknya ilmu karena meninggalkan prakteknya
53. Rusaknya perbuatan karena tidak ada keikhlasan
54. Rusaknya kemurahan karena kebanggaan
55. Rusaknya masyarakat umum karena orang alim yang licik
56. Rusaknya keadilan karena orang zalim yang menyimpang
57. Rusaknya pembangunan karena penyimpangan para penguasa
58. Rusaknya kekuatan karena menghalangi untuk berbuat baik
59. Rusaknya pembicaraan karena dusta
60. Rusaknya amal-amal karena kelemahan para pelakunya
61. Rusaknya angan-angan karena tibanya ajal
62. Rusaknya kesetiaan karena penipuan
63. Rusaknya tekad karena kadaluarsanya perkara
64. Rusaknya amanat karena penghianatan
65. Rusaknya ahli fiqih karena tidak menjaga diri
66. Rusaknya kemurahan karena berlebihan
67. Rusaknya kehidupan karena buruknya pengaturan
68. Rusaknya pembicaraan karena terlalu panjang
69. Rusaknya kekayaan karena kikir
70. Rusaknya kebaikan karena teman yang buruk
71. Rusaknya kemampuan karena kesombongan dan keangkuhan
72. Pangkal berbagai kerusakan adalah cinta pada kelezatan
73. Kerusakan yang paling jelek pada akal adalah kesombongan
(Mizanul-hikmah Juz I: 110-113)
Khutbah Rasulullah saw Slm Rangka Menyambut Bulan Suci Ramadhan
KHUTBAH RASULULLAH SAW DALAM RANGKA MENYAMBUT BULAN PALING MULIA 'BULAN SUCI RAMADHAN"
“Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan
membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi
Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya
adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yg
paling utama.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu
Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi
tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah.
Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang
suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca
Kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di
bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan
dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan
masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah
tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak
halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal
kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia
anak-anak yatimmu.
Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu.
Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah
saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang
hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka
menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan
mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai
manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka
bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban
(dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.
Ketahuilah, Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia
tidak akan mengadzab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan
mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan
Rabbal-alamin.
Wahai manusia, barangsiapa di antaramu memberi
buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi
Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi
ampunan atas dosa-dosa yang lalu.
(Seorang sahabat bertanya,
“Ya Rasulullah, tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah
meneruskan khotbahnya, “Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya
dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya
dengan seteguk air.”)
Wahai manusia, siapa yang membaguskan
akhlaknya di bulan ini, ia akan berhasil melewati Sirathal Mustaqim pada
hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan
orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di
bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.
Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan
murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa
memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia
berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan
(silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan
rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan
kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia
berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa melakukan shalat sunat di
bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka.
Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70
shalat fardu di bulan lain.
Barangsiapa memperbanyak shalawat
kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari
ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat
Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan
yang lain.
Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga
dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah
menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada
Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan
terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.”
(Aku –Ali bin Abi Thalib yang meriwayatkan hadits ini– berdiri dan
berkata, “Ya Rasulullah, apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab
Nabi, “Ya Abal Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah
menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.)
Wassalaamu"alaikum Warramatullahi Wabarakatuh
Agustiar Damhuri.
Sabtu, 10 Maret 2012
BUtir BUtir Syukur..!
BUTIR - BUTIR SYUKUR
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Semoga Kesejahtraan, Shalawat serta salam selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alahi wa Salam beserta Keluarga, Sahabat, Tabiin Tabiat dan Pengikut yang setia dengan Assunahnya hinga akhirul Jaman.
"Pernahkah terfikirkan, bahwa ada rahasia yang menggetarkan dibalik ribuan butir nasi yang setiap hari kita temui ?
Sahabat, ini adalah sebuah renungan sederhana yang insya Allah akan menghadirkan kekaguman luar biasa tentang hal yang setiap hari kita temui.
Kita tidak tahu pasti kapan sebutir benih padi itu ditemukan..
Kemudian salah satu manusia yang dikehendaki Nya menyemaikan benih tersebut hingga menjadi banyak dan menyebar keseluruh Dunia...
Dan atas kekuasaan Nya,
Beberapa ribu butir itu setiap harinya didatangkan kehadapan kita secara konstan..
Fikirkanlah, ..
Butiran nasi dihadapan kita begitu berharga, ia telah melalui proses yang panjang di sebuah sawah yang tidak kita ketahui tempatnya. Beberapa bulan lalu, ia disemaikan petani, kemudian Allah menumbuhkannya, membesarkannya, menjaganya melalui tangan tangan petani yang DIA kehendaki hingga padi itu berisi menguning dan dipanen..
Butiran nasi itu tidak hanya dinikmati petani di desa desa saja..
Butiran butiran nasi itu bisa dinikmati manusia di kota kota, bahkan dinegara yang tidak memiliki tanah basah untuk menanam padi?
Allah Maha Adil dan Maha Pengatur.
Dengan kemaha perkasaan Nya, Allah telah menebarkannya keseluruh permukaan bumi secara merata hingga jutaan atau mungkin milyaran manusia bisa menikmatinya disetiap harinya..
Termasuk butiran butiran nasi dalam satu piring dihadapan kita yang dihadirkan lengkap dengan lauknya, mereka telah tiba atas kekuasaan Allah tepat pada waktunya membentuk satu set menu untuk menjamu makan siang kita sebagai salah satu nikmat Nya hari itu.
SUBHANALLAH...
Itu butiran butiran nasi yang kadang terlupa kita syukuri..
Sekarang lihatlah satai kambing yang menjadi lauknya. Tentu saja, si satai kambing ini tidak akan pernah ada dihadapan kita tanpa seizin sang Maha Pencipta Allah Azza wajala bukan?
Sate kambing itu telah melalui proses panjang juga,..
Ia diambil dan dipilih dari daging se-ekor kambing yang telah disembelih oleh tukang potong. Tukang potong menjualnya kepasar, dan pihak restoran membelinya untuk kemudian dimasak oleh koki di restoran tersebut.
Setelah itu seorang pelayan mengantarnya kemeja dihadapan kita.
Sebentar lagi tangan kanan kita akan mengambilnya lalu mengantarkan beberapa potong kemulut kita, mulut kita reflexs mengunyahnya, lalu diantar ke lambung kita. Selanjutnya daging itu dicerna dan diproses hingga menjadi energi dst..
Sebelum cerita menyedihkan yang mengakhiri kematian si kambing, ia dibesarkan disebuah desa oleh seorang petani selama beberapa bulan hingga ia beranjak dewasa. Pak petani itu sangat menyayangi kambingnya, tapi tiba tiba kemudian ia butuh uang dan menjual kambing itu ke bandar kambing, bandar itu kemudian menjualnya lagi ke tukang jagal untuk kemudian di potong dan seterusnya..
Begitu juga dengan sayur segar yang biasa disuguhkan untuk menemani sambal pedas bersama sate tersebut. Allah telah menjaga dan memelihara sayur sayur segar melalui tangan tangan petani disebuah desa yang berbeda. Allah telah menjaganya dari serangga atau hewan lain yang mungkin ikut memakannya, sekali lagi.. Allah telah menjaganya dan mengantarnya kepasar oleh tangan tangan yang dikehendaki Nya.
Dari pasar staff restoran itu memilihnya, mencucinya dan seterusnya..
Menakjubkan bukan?
Allah telah memelihara kambing itu melalui tangan si PETANI selama beberapa bulan, kemudian Allah mengantarkan kambing itu melalui tangan petani ke BANDAR KAMBING. Dan kemudian atas izin Allah juga, TUKANG POTONG menyembelih kambing itu, kemudian atas ilmu dari Allah ta'ala, si Kokki memasaknya..
Tidak lama setelah itu pelayan mengantarnya untuk kita,..
Hingga sampailah beberapa potong daging kambing itu dihadapan kita hari itu, tepat saat makan siang telah tiba dan perut kita merasa lapar..
Mungkin saat itu si petani menggerutu, saat kebutuhan datang dan memaksanya untuk menjual kambing yang ia urus selama berbulan bulan. Bahkan, mungkin saja sikambing menghilang dari kandang karena dicuri oleh seseorang dan pencuri itu kemudian menjualnya kepasar. Mungkin juga keluarga kambing itu merasa kehilangan atas saudaranya yang pergi..
Tapi Allah telah membuatkan kesemua skenario tersebut untuk keseimbangan manusia dan Alam semesta ini..
Subhanallah...
Inilah Ayat Ayat Allah yang tersirat dialam semesta ini, termasuk disepiring nasi yang setiap hari kita temui dan kadang kita lupa menysukurinya.
Keajaiban selanjutnya terjadi dilambung kita, berbagai ribuan bakteri baik dan sistem tubuh kita mencernanya hingga sepiring nasi dan kawan kawan itu berubah menjadi energi yang membuat kita segar!
Setelah itu, tubuh kita menjai kuat dan tumbuh dewasa...
Pantaskah sekiranya setelah energi itu memancar ketubuh kita, lalu bibir kita bergerak gerak dan mengeluh kepada Nya atas sesuatu yang tidak kita mengerti?
Allah berfirman:
"Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur" (QS Al A'raaf 10)
Apakah gerangan hal yang membuat kita membangkang dan durhaka kepada RABB yang telah menghadirkan ribuan piring makanan disetiap hari kita?
Mungkinkah rangkaian kejadian ini terjadi begitu saja?
Kenapa dengan mudahnya kita menjadi sombong dan congkak dihadapan manusia, padahal Allah lah Yang Maha Kaya?
Bukankah Allah yang telah menyiapkan makanan untuk kita jauh jauh hari dengan perencanaan Nya yang Maha Sempurna?
Allah berfirman:
"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan memberi syafaat kecuali sesudah ada izin-Nya. (Zat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?"(QS Yunus : 3)
Renungkanlah. .
Pelajarilah sekitar kita agar kita pandai bersyukur..
Allah berfirman:
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur". (QS An Nahl 78)
Dengan bersyukur, apapun itu..
Maka nikmat itu akan bertambah, itu janji Allah..
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan:"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(Qs Ibrahim :7)
Bersyukurlah, setidaknya disetiap piring piring nasi yang kita temui..
Tidak usahlah mengeluh untuk obsesi obsesi besar yang belum kita gapai..
Berbahagialah, karena kita telah menjadi bagian dari hamba hamba nya yang beriman..
Rasulullah bersabda:
"Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperoleh kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut isterinya". (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Semoga Kesejahtraan, Shalawat serta salam selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alahi wa Salam beserta Keluarga, Sahabat, Tabiin Tabiat dan Pengikut yang setia dengan Assunahnya hinga akhirul Jaman.
"Pernahkah terfikirkan, bahwa ada rahasia yang menggetarkan dibalik ribuan butir nasi yang setiap hari kita temui ?
Sahabat, ini adalah sebuah renungan sederhana yang insya Allah akan menghadirkan kekaguman luar biasa tentang hal yang setiap hari kita temui.
Kita tidak tahu pasti kapan sebutir benih padi itu ditemukan..
Kemudian salah satu manusia yang dikehendaki Nya menyemaikan benih tersebut hingga menjadi banyak dan menyebar keseluruh Dunia...
Dan atas kekuasaan Nya,
Beberapa ribu butir itu setiap harinya didatangkan kehadapan kita secara konstan..
Fikirkanlah, ..
Butiran nasi dihadapan kita begitu berharga, ia telah melalui proses yang panjang di sebuah sawah yang tidak kita ketahui tempatnya. Beberapa bulan lalu, ia disemaikan petani, kemudian Allah menumbuhkannya, membesarkannya, menjaganya melalui tangan tangan petani yang DIA kehendaki hingga padi itu berisi menguning dan dipanen..
Butiran nasi itu tidak hanya dinikmati petani di desa desa saja..
Butiran butiran nasi itu bisa dinikmati manusia di kota kota, bahkan dinegara yang tidak memiliki tanah basah untuk menanam padi?
Allah Maha Adil dan Maha Pengatur.
Dengan kemaha perkasaan Nya, Allah telah menebarkannya keseluruh permukaan bumi secara merata hingga jutaan atau mungkin milyaran manusia bisa menikmatinya disetiap harinya..
Termasuk butiran butiran nasi dalam satu piring dihadapan kita yang dihadirkan lengkap dengan lauknya, mereka telah tiba atas kekuasaan Allah tepat pada waktunya membentuk satu set menu untuk menjamu makan siang kita sebagai salah satu nikmat Nya hari itu.
SUBHANALLAH...
Itu butiran butiran nasi yang kadang terlupa kita syukuri..
Sekarang lihatlah satai kambing yang menjadi lauknya. Tentu saja, si satai kambing ini tidak akan pernah ada dihadapan kita tanpa seizin sang Maha Pencipta Allah Azza wajala bukan?
Sate kambing itu telah melalui proses panjang juga,..
Ia diambil dan dipilih dari daging se-ekor kambing yang telah disembelih oleh tukang potong. Tukang potong menjualnya kepasar, dan pihak restoran membelinya untuk kemudian dimasak oleh koki di restoran tersebut.
Setelah itu seorang pelayan mengantarnya kemeja dihadapan kita.
Sebentar lagi tangan kanan kita akan mengambilnya lalu mengantarkan beberapa potong kemulut kita, mulut kita reflexs mengunyahnya, lalu diantar ke lambung kita. Selanjutnya daging itu dicerna dan diproses hingga menjadi energi dst..
Sebelum cerita menyedihkan yang mengakhiri kematian si kambing, ia dibesarkan disebuah desa oleh seorang petani selama beberapa bulan hingga ia beranjak dewasa. Pak petani itu sangat menyayangi kambingnya, tapi tiba tiba kemudian ia butuh uang dan menjual kambing itu ke bandar kambing, bandar itu kemudian menjualnya lagi ke tukang jagal untuk kemudian di potong dan seterusnya..
Begitu juga dengan sayur segar yang biasa disuguhkan untuk menemani sambal pedas bersama sate tersebut. Allah telah menjaga dan memelihara sayur sayur segar melalui tangan tangan petani disebuah desa yang berbeda. Allah telah menjaganya dari serangga atau hewan lain yang mungkin ikut memakannya, sekali lagi.. Allah telah menjaganya dan mengantarnya kepasar oleh tangan tangan yang dikehendaki Nya.
Dari pasar staff restoran itu memilihnya, mencucinya dan seterusnya..
Menakjubkan bukan?
Allah telah memelihara kambing itu melalui tangan si PETANI selama beberapa bulan, kemudian Allah mengantarkan kambing itu melalui tangan petani ke BANDAR KAMBING. Dan kemudian atas izin Allah juga, TUKANG POTONG menyembelih kambing itu, kemudian atas ilmu dari Allah ta'ala, si Kokki memasaknya..
Tidak lama setelah itu pelayan mengantarnya untuk kita,..
Hingga sampailah beberapa potong daging kambing itu dihadapan kita hari itu, tepat saat makan siang telah tiba dan perut kita merasa lapar..
Mungkin saat itu si petani menggerutu, saat kebutuhan datang dan memaksanya untuk menjual kambing yang ia urus selama berbulan bulan. Bahkan, mungkin saja sikambing menghilang dari kandang karena dicuri oleh seseorang dan pencuri itu kemudian menjualnya kepasar. Mungkin juga keluarga kambing itu merasa kehilangan atas saudaranya yang pergi..
Tapi Allah telah membuatkan kesemua skenario tersebut untuk keseimbangan manusia dan Alam semesta ini..
Subhanallah...
Inilah Ayat Ayat Allah yang tersirat dialam semesta ini, termasuk disepiring nasi yang setiap hari kita temui dan kadang kita lupa menysukurinya.
Keajaiban selanjutnya terjadi dilambung kita, berbagai ribuan bakteri baik dan sistem tubuh kita mencernanya hingga sepiring nasi dan kawan kawan itu berubah menjadi energi yang membuat kita segar!
Setelah itu, tubuh kita menjai kuat dan tumbuh dewasa...
Pantaskah sekiranya setelah energi itu memancar ketubuh kita, lalu bibir kita bergerak gerak dan mengeluh kepada Nya atas sesuatu yang tidak kita mengerti?
Allah berfirman:
"Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur" (QS Al A'raaf 10)
Apakah gerangan hal yang membuat kita membangkang dan durhaka kepada RABB yang telah menghadirkan ribuan piring makanan disetiap hari kita?
Mungkinkah rangkaian kejadian ini terjadi begitu saja?
Kenapa dengan mudahnya kita menjadi sombong dan congkak dihadapan manusia, padahal Allah lah Yang Maha Kaya?
Bukankah Allah yang telah menyiapkan makanan untuk kita jauh jauh hari dengan perencanaan Nya yang Maha Sempurna?
Allah berfirman:
"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan memberi syafaat kecuali sesudah ada izin-Nya. (Zat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?"(QS Yunus : 3)
Renungkanlah. .
Pelajarilah sekitar kita agar kita pandai bersyukur..
Allah berfirman:
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur". (QS An Nahl 78)
Dengan bersyukur, apapun itu..
Maka nikmat itu akan bertambah, itu janji Allah..
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan:"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(Qs Ibrahim :7)
Bersyukurlah, setidaknya disetiap piring piring nasi yang kita temui..
Tidak usahlah mengeluh untuk obsesi obsesi besar yang belum kita gapai..
Berbahagialah, karena kita telah menjadi bagian dari hamba hamba nya yang beriman..
Rasulullah bersabda:
"Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperoleh kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut isterinya". (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Rabu, 07 Maret 2012
PEngertian wahabi
Orang-orang biasa menuduh "wahabi" kepada setiap orang yang melanggar tradisi, kepercayaan dan bid'ah mereka, sekalipun kepercayaan-kepercayaan mereka itu rusak, bertentangan dengan Al-Quranul Karim dan hadits-hadits shahih. Mereka menentang dakwah kepada tauhid dan enggan berdoa (memohon) hanya kepada Allah semata.
Suatu kali, di depan seorang Syaikh penulis membacakan hadits riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam kitab Al-Arba'in An-Nawawiyah. Hadits ini berbunyi:
"Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)
Penulis sungguh kagum dengan terhadap keterangan Imam Nawawi ketika beliau mengatakan, "Kemudian jia kebutuhan yang dimintanya --menurut tradisi-- di luar batas kemampuan manusia, seperti meminta hidayah (petunjuk), ilmu, kesembuhan dari sakit dan kesehatan, maka hal-hal itu (mesti) memintanya hanya kepada Allah semata. Dan jika hal-hal di atas dimintanya kepada makhluk maka itu amat tercela."
Lalu kepada Syaikh tersebut penulis katakan, "Hadits ini berikut keterangannya menegaskan tidak dibolehkannya meminta pertolongan kepada selain Allah." Ia lalu menyergah, "Malah sebaliknya, hal itu dibolehkan."
Penulis lalu bertanya, "Apa dalil anda?" Syaikh itu ternyata marah sambil berkata dengan suara tinggi, "Sesungguhnya bibiku berkata, wahai Syaikh Sa'd" (1) dan Aku bertanya padanya, "Wahai bibiku, apakah Syaikh Sa'd dapat memberi manfaat kepadamu?!" Ia menjawab, "Aku berdoa (meminta) kepadanya, sehingga ia menyampaikannya kepada Allah, lalu Allah menyembuhkanku."
Lalu penulis berkata, "Sesungguhnya engkau adalah seorang alim. Engkau banyak habiskan umurmu untuk membaca kitab-kitab. Tetapi sungguh mengherankan, engkau justru mengambil aqidah dari bibimu yang bodoh itu."
Ia lalu berkata, "Pola pikirmu adalah pola pikir wahabi. Engkau pergi berumrah lalu datang dengan membawa kitab-kitab wahabi."
Padahal penulis tidak mengenal sedikitpun tentang wahabi, kecuali sekadar yang penulis dengar dari para Syaikh. Mereka berkata tentang wahabi, "Orang-orang wahabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka tidak percaya kepada wali dan karamah-karamahnya, tidak mencintai Rasul dan berbagai tuduhan dusta lainnya."
Jika orang-orang wahabi adalah mereka yang percaya hanya kepada pertolongan Allah semata, dan percaya yang menyembuhkan hanyalah Allah, maka aku wajib mengenal wahabi lebih jauh.
Kemudian penulis tanyakan jama'ahnya, sehingga penulis mendapat informasi bahwa pada setiap Kamis sore mereka menyelenggarakan pertemuan untuk mengkaji pelajaran tafsir, hadits, dan fiqh.
Bersama anak-anak penulis dan sebagian pemuda intelektual, penulis mendatangi majelis mereka kami masuk ke sebuah ruangan yang besar. Sejenak kami menanti, sampai tiada berapa lama seorang Syaikh yang sudah berusia masuk ruangan. Beliau memberi salam kepada kami dan menjabat tangan semua hadirin dimulai dari sebelah kanan, lalu beliau duduk di kursi dantak seorang pun berdiri untuknya. Penulis berkata dalam hati, "Ini adalah seorang Syaikh yang tawadhu' (rendah hati), tidak suka orang berdiri untuknya (dihormati)."
Lalu Syaikh membuka pelajaran-pelajaran dengan ucapan, "Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah. Kepada Allah kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan...", dan selanjutnya hingga selesai, sebagaimana Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam biasa membuka khutbah dan pelajarannnya.
Kemudian Syaikh itu memulai bicara dengan menggunakan bahasa Arab. Beliau menyampaikan hadits-hadits seraya menjelaskan derajat shahih-nya dan para perawinya. Setiap kali menyebut nama Nabi, beliau mengucapkan shalawat atasnya. Di akhir pelajaran, beberapa soal tertulis diajukan kepadanya. Beliau menjawab soal-soal itu dengan dalil dari Al-Quranun Karim dan sunnah Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Beliau berdiskusi dengan hadirin dan tidak menolak setiap penanya. Di akhir pelajaran, beliau berkata, "Segala puji bagi Allah bahwa kita termasuk orang-orang Islam dan salaf.(2) Sebagian orang menuduh kita orang-orang wahabi. Ini termasuk tanaabuzun bil alqab (memanggil dengan panggilan- panggilan yang buruk). Allah melarang kita dari hal itu dengan firman-Nya, "Dan janganlah kamu panggil-mamanggil dengan gelar-gelaran yang buruk." (Al-Hujurat: 11)
Dahulu, mereka menuduh Imam Syafi'i dengan rafidhah. Beliau lalu membantah mereka dengan mengatakan, "Jika rafidhah (berarti) mencintai keluarga Muhammad. Maka hendaknya jin dan manusia menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah rafidhah."
Maka, kita juga membantah orang-orang yang menuduh kita wahabi, dengan ucapan salah seorang penyair, "Jika pengikut Ahmad adalah wahabi. Maka aku berikrar bahwa sesungguhnya aku wahabi."
Ketika pelajaran usai, kami keluar bersama-sama sebagian para pemuda. Kami benar-benar dibuat kagum oleh ilmu dan kerendahan hatinya. Bahkan aku mendengar salah seorang mereka berkata, "Inilah Syaikh yang sesungguhnya!"
A. Pengertian wahabi
Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab. Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya, yaitu Muhammad. Betapa pun begitu, ternyata Allah menghendaki nama wahabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhaab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang baik (Asmaa'ul Husnaa).
B. Muhammad bin Abdul Wahab
Beliau dilahirkan di kota 'Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Quran sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hanbali, belajar hadits dan tafsir kepada para Syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota Madinah. Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Memelihara kemurnian tauhid dari syirik, khurafat dan bid'ah, sebagaimana banyak ia saksikan di Nejed dan negeri-negeri lainnya. Demikian juga soal menyucikan dan mengkultuskan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar.
Ia mendengar banyak wanita di negerinya ber-tawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, "Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun ini."
Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para shahabat, keluarga Nabi, (ahlul bait), serta kuburan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam,hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan, kecuali kepada Allah semata.
Di Madinah, Ia mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, serta berdoa (memohon) kepada selain Allah, hal yang sungguh bertentangan dengan Al-Quran dan sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Al-Quran menegaskan,
"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika berbuat (yang demikian itu), sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim." (Yunus: 106)
Zhalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas:
"Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hasan shahih)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaummnya kepada tauhid dan berdoa (memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan, sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain. Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang shalih), adalah dengan mengikuti amal shalihnya, tidak dengan menjadikannya perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat bermohon selain daripada Allah.
1. Penentangan orang-orang batil terhadapnya:
Para ahli bid'ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh tauhid telah ada sejak zaman Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Bahkan mereka merasa heran terhadap dakwah kepada tauhid. Allah berfirman:
"Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan." (Shaad: 5)
Musuh-musuh Syaikh memulai perbuatan kejinya dengan memerangi dan menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka bersekongkol untuk membunuhnya dengan maksud agar dakwahnya terputus dan tak berkelanjutan. Tetapi Allah Subhana wa Ta'ala menjaganya dan memberinya penolong sehingga dakwah tauhid tersebar luas di Hejaz, dan di negara-negara Islam lainnya.
Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya, mereka mengatakan dia (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) adalah pembuat madzhab yang kelima(3), padahal dia adalah seorang penganut madzhab Hanbali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang wahabi tidak mencintai Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam serta tidak bershalawat di atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.
Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab - rahimahullah- telah menulis kitab Mukhtashar Siiratur Rasul shalallahu 'alaihi wasallam. Kitab ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Mereka mengada-adakan berbagai cerita dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang karenanya mereka bakal dihisab pada hari Kiamat.
Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran, niscaya mereka akan menemukan Al-Quran, hadits dan ucapan shahabat sebagai rujukannya.
Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis, bahwa ada salah seorang ulama yang memperingatkan dalam pengajian-pengajiannya dari ajaran wahabi. Suatu hari, salah seorang dari hadirin memberinya sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih dahulu nama pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang dibaca, mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahab.
2. Dalam sebuah hadits disebutkan;
"Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di negeri Syam, dan di negeri Yaman. Mereka berkata, 'Dan di negeri Nejed.' Rasulullah berkata, 'Di sana banyak terjadi berbagai kegoncangan dan fitnah, dan di sana (tempat) munculnya para pengikut setan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnu Hajar Al-'Asqalani dan ulama lainnya menyebutkan, yang dimaksud Nejed dalam hadits di atas adalah Nejed Iraq. Hal itu terbukti dengan banyaknya fitnah yang terjadi di sana. Kota yang juga di situ Al-Husain bin Ali radhiallahu 'anhuma dibunuh.
Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwa yang dimaksud dengan Nejed adalah Hejaz, kota yang tidak pernah tampak di dalamnya fitnah sebagaimana yang terjadi Iraq. Bahkan sebaliknya, yang tampak di Nejed Hejaz adalah tauhid, yang karenanya Allah menciptakan alam, dan karenanya pula Allah mengutus para rasul.
3. Sebagian ulama yang adil sesungguhnya menyebutkan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah seorang mujaddi (pembaharu) abad dua belas Hijriyah.
Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah Syaikh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang "Silsilah Tokoh-Tokoh Sejarah", di atanra mereka terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin 'Irfan.
Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, aqidah tauhid sampai ke India dan negeri-negeri lainnya melalui jama'ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni Inggris yang menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi aqidah tauhid tersebut. Hal itu dilakukan, karena mereka mengetahui bahwa aqidah tauhid akan menyatukan umat Islam dalam melawan mereka.
Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqah (orang-orang bayaran) agar mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid yang menyeru kepada tauhid dengan kata wahabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan dari tukang bid'ah sehingga memalingkan umat Islam dari aqidah tauhid yang menyeru agar umat manusia berdoa hanya semata-mata kepada Allah. Orang-orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata wahabi adalah nisbat kepada Al-Wahhaab (Yang Maha Pember), yaitu salah satu dari Nama-nama Allah yang paling baik (Asma'ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan menjanjikananya masuk Surga.
Catatan kaki:
(1) Dia memohon pertolongan kepada Syaikh Sa'd yang dikuburkan di dalam masjidnya.
(2) Orang-orang salaf adalah mereka yang mengikuti jalan para salafus shaleh. Yaitu Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, para shahabat dan tabi'in.
(3) Sebab yang terkenal dalam dunia fiqih hanya ada empat madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali.
Suatu kali, di depan seorang Syaikh penulis membacakan hadits riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam kitab Al-Arba'in An-Nawawiyah. Hadits ini berbunyi:
"Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)
Penulis sungguh kagum dengan terhadap keterangan Imam Nawawi ketika beliau mengatakan, "Kemudian jia kebutuhan yang dimintanya --menurut tradisi-- di luar batas kemampuan manusia, seperti meminta hidayah (petunjuk), ilmu, kesembuhan dari sakit dan kesehatan, maka hal-hal itu (mesti) memintanya hanya kepada Allah semata. Dan jika hal-hal di atas dimintanya kepada makhluk maka itu amat tercela."
Lalu kepada Syaikh tersebut penulis katakan, "Hadits ini berikut keterangannya menegaskan tidak dibolehkannya meminta pertolongan kepada selain Allah." Ia lalu menyergah, "Malah sebaliknya, hal itu dibolehkan."
Penulis lalu bertanya, "Apa dalil anda?" Syaikh itu ternyata marah sambil berkata dengan suara tinggi, "Sesungguhnya bibiku berkata, wahai Syaikh Sa'd" (1) dan Aku bertanya padanya, "Wahai bibiku, apakah Syaikh Sa'd dapat memberi manfaat kepadamu?!" Ia menjawab, "Aku berdoa (meminta) kepadanya, sehingga ia menyampaikannya kepada Allah, lalu Allah menyembuhkanku."
Lalu penulis berkata, "Sesungguhnya engkau adalah seorang alim. Engkau banyak habiskan umurmu untuk membaca kitab-kitab. Tetapi sungguh mengherankan, engkau justru mengambil aqidah dari bibimu yang bodoh itu."
Ia lalu berkata, "Pola pikirmu adalah pola pikir wahabi. Engkau pergi berumrah lalu datang dengan membawa kitab-kitab wahabi."
Padahal penulis tidak mengenal sedikitpun tentang wahabi, kecuali sekadar yang penulis dengar dari para Syaikh. Mereka berkata tentang wahabi, "Orang-orang wahabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka tidak percaya kepada wali dan karamah-karamahnya, tidak mencintai Rasul dan berbagai tuduhan dusta lainnya."
Jika orang-orang wahabi adalah mereka yang percaya hanya kepada pertolongan Allah semata, dan percaya yang menyembuhkan hanyalah Allah, maka aku wajib mengenal wahabi lebih jauh.
Kemudian penulis tanyakan jama'ahnya, sehingga penulis mendapat informasi bahwa pada setiap Kamis sore mereka menyelenggarakan pertemuan untuk mengkaji pelajaran tafsir, hadits, dan fiqh.
Bersama anak-anak penulis dan sebagian pemuda intelektual, penulis mendatangi majelis mereka kami masuk ke sebuah ruangan yang besar. Sejenak kami menanti, sampai tiada berapa lama seorang Syaikh yang sudah berusia masuk ruangan. Beliau memberi salam kepada kami dan menjabat tangan semua hadirin dimulai dari sebelah kanan, lalu beliau duduk di kursi dantak seorang pun berdiri untuknya. Penulis berkata dalam hati, "Ini adalah seorang Syaikh yang tawadhu' (rendah hati), tidak suka orang berdiri untuknya (dihormati)."
Lalu Syaikh membuka pelajaran-pelajaran dengan ucapan, "Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah. Kepada Allah kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan...", dan selanjutnya hingga selesai, sebagaimana Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam biasa membuka khutbah dan pelajarannnya.
Kemudian Syaikh itu memulai bicara dengan menggunakan bahasa Arab. Beliau menyampaikan hadits-hadits seraya menjelaskan derajat shahih-nya dan para perawinya. Setiap kali menyebut nama Nabi, beliau mengucapkan shalawat atasnya. Di akhir pelajaran, beberapa soal tertulis diajukan kepadanya. Beliau menjawab soal-soal itu dengan dalil dari Al-Quranun Karim dan sunnah Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Beliau berdiskusi dengan hadirin dan tidak menolak setiap penanya. Di akhir pelajaran, beliau berkata, "Segala puji bagi Allah bahwa kita termasuk orang-orang Islam dan salaf.(2) Sebagian orang menuduh kita orang-orang wahabi. Ini termasuk tanaabuzun bil alqab (memanggil dengan panggilan- panggilan yang buruk). Allah melarang kita dari hal itu dengan firman-Nya, "Dan janganlah kamu panggil-mamanggil dengan gelar-gelaran yang buruk." (Al-Hujurat: 11)
Dahulu, mereka menuduh Imam Syafi'i dengan rafidhah. Beliau lalu membantah mereka dengan mengatakan, "Jika rafidhah (berarti) mencintai keluarga Muhammad. Maka hendaknya jin dan manusia menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah rafidhah."
Maka, kita juga membantah orang-orang yang menuduh kita wahabi, dengan ucapan salah seorang penyair, "Jika pengikut Ahmad adalah wahabi. Maka aku berikrar bahwa sesungguhnya aku wahabi."
Ketika pelajaran usai, kami keluar bersama-sama sebagian para pemuda. Kami benar-benar dibuat kagum oleh ilmu dan kerendahan hatinya. Bahkan aku mendengar salah seorang mereka berkata, "Inilah Syaikh yang sesungguhnya!"
A. Pengertian wahabi
Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab. Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya, yaitu Muhammad. Betapa pun begitu, ternyata Allah menghendaki nama wahabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhaab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang baik (Asmaa'ul Husnaa).
B. Muhammad bin Abdul Wahab
Beliau dilahirkan di kota 'Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Quran sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hanbali, belajar hadits dan tafsir kepada para Syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota Madinah. Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Memelihara kemurnian tauhid dari syirik, khurafat dan bid'ah, sebagaimana banyak ia saksikan di Nejed dan negeri-negeri lainnya. Demikian juga soal menyucikan dan mengkultuskan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar.
Ia mendengar banyak wanita di negerinya ber-tawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, "Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun ini."
Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para shahabat, keluarga Nabi, (ahlul bait), serta kuburan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam,hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan, kecuali kepada Allah semata.
Di Madinah, Ia mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, serta berdoa (memohon) kepada selain Allah, hal yang sungguh bertentangan dengan Al-Quran dan sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Al-Quran menegaskan,
"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika berbuat (yang demikian itu), sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim." (Yunus: 106)
Zhalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas:
"Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hasan shahih)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaummnya kepada tauhid dan berdoa (memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan, sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain. Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang shalih), adalah dengan mengikuti amal shalihnya, tidak dengan menjadikannya perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat bermohon selain daripada Allah.
1. Penentangan orang-orang batil terhadapnya:
Para ahli bid'ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh tauhid telah ada sejak zaman Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Bahkan mereka merasa heran terhadap dakwah kepada tauhid. Allah berfirman:
"Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan." (Shaad: 5)
Musuh-musuh Syaikh memulai perbuatan kejinya dengan memerangi dan menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka bersekongkol untuk membunuhnya dengan maksud agar dakwahnya terputus dan tak berkelanjutan. Tetapi Allah Subhana wa Ta'ala menjaganya dan memberinya penolong sehingga dakwah tauhid tersebar luas di Hejaz, dan di negara-negara Islam lainnya.
Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya, mereka mengatakan dia (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) adalah pembuat madzhab yang kelima(3), padahal dia adalah seorang penganut madzhab Hanbali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang wahabi tidak mencintai Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam serta tidak bershalawat di atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.
Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab - rahimahullah- telah menulis kitab Mukhtashar Siiratur Rasul shalallahu 'alaihi wasallam. Kitab ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Mereka mengada-adakan berbagai cerita dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang karenanya mereka bakal dihisab pada hari Kiamat.
Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran, niscaya mereka akan menemukan Al-Quran, hadits dan ucapan shahabat sebagai rujukannya.
Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis, bahwa ada salah seorang ulama yang memperingatkan dalam pengajian-pengajiannya dari ajaran wahabi. Suatu hari, salah seorang dari hadirin memberinya sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih dahulu nama pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang dibaca, mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahab.
2. Dalam sebuah hadits disebutkan;
"Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di negeri Syam, dan di negeri Yaman. Mereka berkata, 'Dan di negeri Nejed.' Rasulullah berkata, 'Di sana banyak terjadi berbagai kegoncangan dan fitnah, dan di sana (tempat) munculnya para pengikut setan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnu Hajar Al-'Asqalani dan ulama lainnya menyebutkan, yang dimaksud Nejed dalam hadits di atas adalah Nejed Iraq. Hal itu terbukti dengan banyaknya fitnah yang terjadi di sana. Kota yang juga di situ Al-Husain bin Ali radhiallahu 'anhuma dibunuh.
Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwa yang dimaksud dengan Nejed adalah Hejaz, kota yang tidak pernah tampak di dalamnya fitnah sebagaimana yang terjadi Iraq. Bahkan sebaliknya, yang tampak di Nejed Hejaz adalah tauhid, yang karenanya Allah menciptakan alam, dan karenanya pula Allah mengutus para rasul.
3. Sebagian ulama yang adil sesungguhnya menyebutkan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah seorang mujaddi (pembaharu) abad dua belas Hijriyah.
Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah Syaikh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang "Silsilah Tokoh-Tokoh Sejarah", di atanra mereka terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin 'Irfan.
Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, aqidah tauhid sampai ke India dan negeri-negeri lainnya melalui jama'ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni Inggris yang menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi aqidah tauhid tersebut. Hal itu dilakukan, karena mereka mengetahui bahwa aqidah tauhid akan menyatukan umat Islam dalam melawan mereka.
Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqah (orang-orang bayaran) agar mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid yang menyeru kepada tauhid dengan kata wahabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan dari tukang bid'ah sehingga memalingkan umat Islam dari aqidah tauhid yang menyeru agar umat manusia berdoa hanya semata-mata kepada Allah. Orang-orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata wahabi adalah nisbat kepada Al-Wahhaab (Yang Maha Pember), yaitu salah satu dari Nama-nama Allah yang paling baik (Asma'ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan menjanjikananya masuk Surga.
Catatan kaki:
(1) Dia memohon pertolongan kepada Syaikh Sa'd yang dikuburkan di dalam masjidnya.
(2) Orang-orang salaf adalah mereka yang mengikuti jalan para salafus shaleh. Yaitu Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, para shahabat dan tabi'in.
(3) Sebab yang terkenal dalam dunia fiqih hanya ada empat madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali.
Langganan:
Postingan (Atom)